JURNALISME ATAU MEDIA MASSA DAN DEHUMANISASI
MEDIA YANG SULIT DIKONTROL
NAMA :
MUHAMMAD AL JAWAD
NIM :
201510040311265
KELAS :
JURNALISME D
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS ILMU SOSAL DAN POLITIK
ILMU KOMUNIKASI
2017
MEDIA YANG SULIT DIKONTROL
Oleh :
Muhammad al jawad
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan
bentuk jamak dari kata medium yang
secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke
penerima pesan.
Banyak batasan yang diberikan orang tentang
media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education
and Comunication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala
bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi.
Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam
lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs
(1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan
pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai
adalah contoh-contohnya.
Asosiasi Pendidikan Nasional (National
Education Association/NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah
bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya.
Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Apa pun
batasan yang diberikan, ada persamaan di antara batasan tersebut yaitu bahwa
media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Menurut McGraw
Hill Dictionary, media sosial
adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain
dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam
sebuah jaringan dan komunitas virtual.
Media sendiri sering digunakan untuk berkomunikasi
dan ajang untuk menjual produk dalam dunia bisnis. Seiring berkembangnya zaman,
media terus berinovasi agar selalu mendapatkan respons positif bagi
penggunanya. Anak muda zaman sekarang atau biasa di sebut generasi milenial
sering menggunakan media untuk memamerkan kehidupan mereka agar merasa dianggap
memiliki status sosial yang tinggi. Bahkan memamerkan gaya hidup yang bersifat
privat pun kini merajalela sehingga tak jarang seseorang menjadi korban
bullying di akun medianya sendiri.
Budaya yang semakin modern membuat masyarakat yang
kekinian semakin menyukai dengan hal yang instan. Memesan makanan atau
kendaraan bisa dengan mudah didapat melalui aplikasi yang sudah disediakan
hanya bermodal smartphone.
Dalam masyarakat yang pluralistik dan demokrasi seperti
kita, budaya yang dominan atau budaya utama yang mengalir dalam masyarakat umum
biasanya banyak mendapat perdebatan. Manusia saling bertemu, menemukan daya tarik,
kesukaan, dan bahkan jatuh cinta pada sosok yang tidak sesuai dengan standar
gambaran kecantikan. Bahkan, media kadang menampilkan sosok yang berbeda namun
ideal untuk menggambarkan cantik dan sukses.
Presiden Joko Widodo mengeluhkan kejamnya media
sosial di Indonesia. Jokowi menyebut media sosial kejam bukan tanpa alasan.
Beliau mengaku di media sosial ada foto rekayasa dirinya bersama pentolan PKI
DN Aidit yang tengah berpidato pada tahun 1955. Padahal, saat itu Jokowi
sendiri belum lahir.
Hal
seperti ini harus diketahui oleh masyarakat luas, agar tidak mudah dirayu oleh
media yang menyebarkan berita atau foto yang kebenarannya masih perlu
dipertanyakan. Masyarakat juga perlu mengkritisi media yang sering memojokkan
suatu institusi atau seorang pejabat negara atau daerah yang terlibat kasus
yang belum jelas.
Dalam
pilkada DKI Jakarta tahun 2017 saja sudah banyak masyarakat yang termakan
berita hoax. Tanpa ampun media-media memojokkan seseorang yang tidak sejalan
dengan visi para pemilik media tersebut.
Pilpres
2014 saja sudah banyak berita yang tidak berbobot untuk disajikan kepada
masyarakat luas. Bukan persaingannya yang menjadi panas tapi pemberitaan yang
selalu melebih-lebihkan dalam hal dua pasangan calon presiden yang berargumen
tentang membangun negara ini lebih baik dari sebelumnnya. Media yang satu
memberitakan paslon ini, sedangkan media lain memberitakan hal serupa tapi
konteksnya berbeda. Ini sebagai simbol bahwa media harus bisa dijadikan pembelajaran.
Masyarakat juga harus dituntut kritis dalam pemberitaan hal semacam ini.
Media
juga tidak selamanya buruk, dalam hal pendidikan media sangat berperan penting
dalam mengembangkan otak seorang anak. Kalau kita lihat perkembangannya, pada
mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru. Alat bantu yang
dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain
yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi
daya serap dan retensi belajar siswa. Namun sayang, karena selalu memusatkan
perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan
aspek design, pengembangan pembelajaran produksi dan evaluasinya.
Beberapa
perusahaan juga memanfaatkan media sebagai alat untuk memasarkan produk dengan
menyajikan iklan yang di sebar melalui media massa. Mulai dari televisi, radio,
koran, majalah, internet dan lain sebagainya. Namun banyaknya iklan yang
berkeliaran di televisi lokal maupun nasional membuat acara televisi tersebut
kurang bermakna, bukannya memberikan informasi positif malah memberikan
informasi suatu produk dan perusahaan. Benar memang tanpa sponsor yang mendukung,
acara tersebut tidak akan pernah terealisasi.
Kita
sebagai pengguna media harus lebih menyikapi dalam pemberitaan, iklan, film dan
lain sebagainya. Setidaknya mengkritisi beberapa media yang tidak netral atau
menyebarkan berita bohong. Kita sebagai pengguna smartphone pasti pernah
mendapat pesan sms yang entah dari mana atau siapa yang mengirim pesan
tersebut.
Komunikasi
yang dilakukan para pelaku penipuan sering membuat para pengguna ponsel pintar
mengabaikan dan tidak jarang terkena berita bohong. Antisipasi yang bisa
dilakukan dengan menyadarkan diri sendiri agar jangan mudah tertipu dengan
rayuan penjahat siber.
Baru-baru
ini ada sebuah kelompok yang mengaku dirinya saracen. Polisi memburu para anggota komplotan saracen karena telah
melakukan penyebaran berita bohong dan menyediakan jasa pembuatan website untuk
menyebarkan berita hoax bagi masyarakat. Hal ini yang membuat Bareskrim Polri menangkap
beberapa tersangka yang terjaring dalam penyebaran konten ujaran kebencian dan
berita bohong di jejaring sosial Facebook.
Adanya
pengungkapan kasus berkedok berita bohong di media sosial ini membuat
masyarakat resah. Dengan adanya polisi siber, kasus seperti ini bisa dapat diungkap
ke publik dengan cepat. Masyarakat juga harus lebih gerak cepat dengan adanya
kasus ini agar segera dilaporkan ke pihak berwajib. Sehingga kejahatan di media
sosial dapat diatasi.
Banyaknya
kasus di media yang menimbulkan kerugian materi bahkan nyawa seseorang membuat
masyarakat harus lebih berhati-hati. Sulitnya mengkontrol media yang luas membuat
masyarakat kesulitan dalam mengkritisi hal ini.
Ada beberapa cara untuk tidak mudah mempercayai
berita atau informasi yang pengirimnya belum jelas asal-usulnya, pertama, pastikan
pesan yang disampaikan itu bukan hoax atau penipuan, kedua, sebagai penerima
pesan jangan mudah tergiur dengan hadiah-hadiah atau acara lomba yang diadakan.
Dengan begitu masyarakat tidak akan mudah percaya terhadap hal-hal yang tidak
bertujuan seperti itu.
Memang
komunikasi seperti ini harus dilakukan dengan hati-hati. Komunikasi hal semacam
ini melakukan pengiriman pesan dari A ke B. Akibatnya perhatian utama mereka
terpusat pada medium, saluran, pengirim, penerima, gangguan dan feedback (umpan balik), dimana semua
istilah-istilah tersebut terkait dengan proses pengiriman pesan. Sekarang
saatnya perhatian kita beralih kepada pendekatan yang berbeda secara radikal.
Penekanan dari pendekatan ini tidak terlalu terfokus pada komunikasi sebagai sebuah
proses, namun pada komunikasi sebagai penghasil makna.
Ketika
saya berkomunikasi dengan Anda, kurang lebih secara akurat Anda paham arti dari
pesan saya. Agar komunikasi bisa terjadi saya harus membuat sebuah pesan yang
terdiri dari berbagai tanda. Pesan ini kemudian menstimulasi Anda untuk
menciptakan makna bagi diri Anda sendiri di mana makna tersebut sedikit banyak
berkaitan dengan makna yang pada awalnya saya ciptakan. Semakin kita berbagi
kode yang sama, maka semakin mungkin kita menggunakan sistem tanda yang sama,
sehingga kedua makna yang kita miliki akan semakin mirip satu sama lain.
Setiap
orang yang menyadari akan komunikasi antara atasan dan bawahan sering terhubung
dengan media. Misalnya dalam perusahaan, seorang bawahan menghubungi atasan
melalui media yang sudah populer, whatsapp sering digunakan untuk berkomunikasi
hubungan antara pekerja dengan direktur atau direktur dengan karyawan dan
manajer. Ini mengindikasikan jika ada pesan yang disampaikan akan menciptakan respon
terhadap penerima pesan.
Hal
ini wajar dalam media yang begitu mudah mempengaruhi orang atau masyarakat yang
menggunakan, mendengar, melihat, ataupun membawa alat-alat media untuk
digunakan komunikasi.
Sehubungan
dengan media yang semakin hari semakin mengkhawatirkan membuat masyarakat
menjadi buta terhadap ancaman-ancaman kedepan. Dalam perkumpulan anak muda
zaman sekarang sering melakukan nongkrong bareng tetapi yang menjadi fokus mereka
adalah smartphone. Mereka sering asyik bermain dengan gadgetnya sendiri-sendiri
tanpa menghiraukan sekitarnya. Bolehlah mereka membalas chat teman atau orang
tua tetapi biasanya mereka sangat apatis terhadap hal-hal disekitarnya.
Sebagai
anak muda seharusnya mereka lebih berfikir kritis dalam menyikapi hal ini.
Manfaatkan media sebaik mungkin, kontrol diri sendiri jangan sampai tidak
peduli dengan lingkungan sekitar. Jadikan media sebagai alat untuk menyebarkan
informasi yang bermanfaat bukan menyebarkan hal-hal yang berbau provokasi atau
SARA. Terutama mahasiswa, mereka memiliki ilmu yang luas tentang politik,
ekonomi, dan teknologi.
Jika
mereka mau bekerja sama dengan dosen, guru ataupun dengan oraganisasi lain
untuk melakukan inovasi baru agar media lebih dimanfaatkan oleh anak muda zaman
sekarang. Maka, tidak mungkin generasi milenial kita terjebak dalam lumpur
apatis yang tidak peduli dengan masalah apa yang terjadi di lingkungan sekitar.
Minimal
dalam suatu institusi membuat kursus belajar bahasa pemrograman atau acara
seminar bijak menggunakan media sosial dan bisa juga mengajak melalui kegiatan
hari-hari nasional menyadarkan para remaja agar selalu ikut andil dalam
menggunakan media sosial.
Pemerintah
seharusnya lebih pro-aktif dalam hal ini. Memberikan solusi-solusi yang baik
untuk para remaja dan mahasiswa. Bagaimana cara menggunakan media yang begitu
menjamur yang kita lihat setiap satu orang memiliki akun lebih dari dua, ini
harus dipahami oleh pihak pemerintah pusat maupun daerah.
Dengan
demikian, mulai dari penipuan, provokasi, isu SARA, berita hoax/bohong dapat
diatasi dengan mudah oleh pihak kepolisian siber. Tanpa ada campur tangan dari
pihak lain seperti meminta bantuan terhadap pihak luar negeri, ini harus
dihentikan agar masalah ini tidak sampai menjadi rumit kedepannya. Dengan
pemikiran cerdik para polisi siber untuk menumpas kasus-kasus ini bisa dapat
diungkap ke publik dengan terbuka tanpa menutupi-nutupi. Para mahasiswa perlu
melakukan andil dalam menumpas kejahatan siber semacam ini. Dengan pemikiran
kreatif mereka bukan tidak mungkin bisa menjadi ancaman bagi para penjahat-penjahat
siber.
DAFTAR PUSTAKA
·
Ambar. 2017. “20 Pengertian Media Sosial
Menurut Para Ahli”.https://pakarkomunikasi.com/pengertian-media-sosial-menurut-para-ahli/Diakses
pada Rabu, 11 oktober 2017 jam 19.11.
·
Baran, J. Stanley, 2011, Pengantar Komunikasi Massa : Literasi Media
dan Budaya. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
·
Ari Maulana. 2017. “Jokowi: Media Sosial
di Indonesia Sangat Kejam”.http://regional.kompas.com/read/2017/10/17/19372161/jokowi-media-sosial-di-indonesia-sangat-kejam/Diakses
pada Kamis, 19 oktober 2017 jam 13.23.
·
Arief, Rahardjo, Anung, dan Rahardjito.
2010. Media Pendidikan Pengertian,
Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo Persada
·
Fiske, John (Hapsari Dwiningtyas). 2012.
Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta:
Rajagrafindo Persada

Nama saya Muhammad al jawad, lahir di
Pasuruan, Jawa timur, pada tanggal 19 oktober 1996. Sekarang saya tinggal di Kota
Malang tepatnya di Desa Tlogomas, Kabupaten Malang.
Saya tengah menempuh jurusan Ilmu Komunikasi
di Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2015. Sekarang masih menempuh
semester 5. Hoby saya main rubik dan travelling. Saya memiliki cita-cita
menjadi seorang pengusaha di bidang teknologi yang bisa menguasai pasar dunia.
Adapun pendidikan formal yang pernah saya
tempuh yaitu lulusan tahun 2009 Sekolah Dasar Suwayuwo I kec. Sukorejo, kab.
Pasuruan. Dan tahun 2012 lulus SMP al-ma’hadul Islami, Beji, Pasuruan. Kemudian
pada tahun 2015 lulus SMA al-ma’hadul Islami Beji, Pasuruan. Dan sekarang saya
aktif menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
Kalian bisa mengunjungi blog saya di aljawadbos.blogspot.co.id dan follow instagram saya @4ljawad atau id line saya rubikismylife atau bisa juga menghubungi
email saya aljawad90@yahoo.co.id
Terima Kasih.