Friday, 23 March 2018

MEDIA YANG SULIT DIKONTROL


JURNALISME ATAU MEDIA MASSA DAN DEHUMANISASI
MEDIA YANG SULIT DIKONTROL



NAMA : MUHAMMAD AL JAWAD
NIM : 201510040311265
KELAS : JURNALISME  D






UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS ILMU SOSAL DAN POLITIK
ILMU KOMUNIKASI
2017
MEDIA YANG SULIT DIKONTROL
Oleh : Muhammad al jawad

Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (Association of Education and Comunication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan/informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya.
Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audiovisual serta peralatannya. Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca. Apa pun batasan yang diberikan, ada persamaan di antara batasan tersebut yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Menurut McGraw Hill Dictionary, media sosial adalah sarana yang digunakan oleh orang-orang untuk berinteraksi satu sama lain dengan cara menciptakan, berbagi, serta bertukar informasi dan gagasan dalam sebuah jaringan dan komunitas virtual.
Media sendiri sering digunakan untuk berkomunikasi dan ajang untuk menjual produk dalam dunia bisnis. Seiring berkembangnya zaman, media terus berinovasi agar selalu mendapatkan respons positif bagi penggunanya. Anak muda zaman sekarang atau biasa di sebut generasi milenial sering menggunakan media untuk memamerkan kehidupan mereka agar merasa dianggap memiliki status sosial yang tinggi. Bahkan memamerkan gaya hidup yang bersifat privat pun kini merajalela sehingga tak jarang seseorang menjadi korban bullying di akun medianya sendiri.
Budaya yang semakin modern membuat masyarakat yang kekinian semakin menyukai dengan hal yang instan. Memesan makanan atau kendaraan bisa dengan mudah didapat melalui aplikasi yang sudah disediakan hanya bermodal smartphone.
Dalam masyarakat yang pluralistik dan demokrasi seperti kita, budaya yang dominan atau budaya utama yang mengalir dalam masyarakat umum biasanya banyak mendapat perdebatan. Manusia saling bertemu, menemukan daya tarik, kesukaan, dan bahkan jatuh cinta pada sosok yang tidak sesuai dengan standar gambaran kecantikan. Bahkan, media kadang menampilkan sosok yang berbeda namun ideal untuk menggambarkan cantik dan sukses.
Presiden Joko Widodo mengeluhkan kejamnya media sosial di Indonesia. Jokowi menyebut media sosial kejam bukan tanpa alasan. Beliau mengaku di media sosial ada foto rekayasa dirinya bersama pentolan PKI DN Aidit yang tengah berpidato pada tahun 1955. Padahal, saat itu Jokowi sendiri belum lahir.
            Hal seperti ini harus diketahui oleh masyarakat luas, agar tidak mudah dirayu oleh media yang menyebarkan berita atau foto yang kebenarannya masih perlu dipertanyakan. Masyarakat juga perlu mengkritisi media yang sering memojokkan suatu institusi atau seorang pejabat negara atau daerah yang terlibat kasus yang belum jelas.
            Dalam pilkada DKI Jakarta tahun 2017 saja sudah banyak masyarakat yang termakan berita hoax. Tanpa ampun media-media memojokkan seseorang yang tidak sejalan dengan visi para pemilik media tersebut.
            Pilpres 2014 saja sudah banyak berita yang tidak berbobot untuk disajikan kepada masyarakat luas. Bukan persaingannya yang menjadi panas tapi pemberitaan yang selalu melebih-lebihkan dalam hal dua pasangan calon presiden yang berargumen tentang membangun negara ini lebih baik dari sebelumnnya. Media yang satu memberitakan paslon ini, sedangkan media lain memberitakan hal serupa tapi konteksnya berbeda. Ini sebagai simbol bahwa media harus bisa dijadikan pembelajaran. Masyarakat juga harus dituntut kritis dalam pemberitaan hal semacam ini.
            Media juga tidak selamanya buruk, dalam hal pendidikan media sangat berperan penting dalam mengembangkan otak seorang anak. Kalau kita lihat perkembangannya, pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru. Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Namun sayang, karena selalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual yang dipakainya orang kurang memperhatikan aspek design, pengembangan pembelajaran produksi dan evaluasinya.
            Beberapa perusahaan juga memanfaatkan media sebagai alat untuk memasarkan produk dengan menyajikan iklan yang di sebar melalui media massa. Mulai dari televisi, radio, koran, majalah, internet dan lain sebagainya. Namun banyaknya iklan yang berkeliaran di televisi lokal maupun nasional membuat acara televisi tersebut kurang bermakna, bukannya memberikan informasi positif malah memberikan informasi suatu produk dan perusahaan. Benar memang tanpa sponsor yang mendukung, acara tersebut tidak akan pernah terealisasi.
            Kita sebagai pengguna media harus lebih menyikapi dalam pemberitaan, iklan, film dan lain sebagainya. Setidaknya mengkritisi beberapa media yang tidak netral atau menyebarkan berita bohong. Kita sebagai pengguna smartphone pasti pernah mendapat pesan sms yang entah dari mana atau siapa yang mengirim pesan tersebut.
            Komunikasi yang dilakukan para pelaku penipuan sering membuat para pengguna ponsel pintar mengabaikan dan tidak jarang terkena berita bohong. Antisipasi yang bisa dilakukan dengan menyadarkan diri sendiri agar jangan mudah tertipu dengan rayuan penjahat siber.
            Baru-baru ini ada sebuah kelompok yang mengaku dirinya saracen. Polisi memburu para anggota komplotan saracen karena telah melakukan penyebaran berita bohong dan menyediakan jasa pembuatan website untuk menyebarkan berita hoax bagi masyarakat. Hal ini yang membuat Bareskrim Polri menangkap beberapa tersangka yang terjaring dalam penyebaran konten ujaran kebencian dan berita bohong di jejaring sosial Facebook.
            Adanya pengungkapan kasus berkedok berita bohong di media sosial ini membuat masyarakat resah. Dengan adanya polisi siber, kasus seperti ini bisa dapat diungkap ke publik dengan cepat. Masyarakat juga harus lebih gerak cepat dengan adanya kasus ini agar segera dilaporkan ke pihak berwajib. Sehingga kejahatan di media sosial dapat diatasi.
            Banyaknya kasus di media yang menimbulkan kerugian materi bahkan nyawa seseorang membuat masyarakat harus lebih berhati-hati. Sulitnya mengkontrol media yang luas membuat masyarakat kesulitan dalam mengkritisi hal ini.
Ada beberapa cara untuk tidak mudah mempercayai berita atau informasi yang pengirimnya belum jelas asal-usulnya, pertama, pastikan pesan yang disampaikan itu bukan hoax atau penipuan, kedua, sebagai penerima pesan jangan mudah tergiur dengan hadiah-hadiah atau acara lomba yang diadakan. Dengan begitu masyarakat tidak akan mudah percaya terhadap hal-hal yang tidak bertujuan seperti itu.
            Memang komunikasi seperti ini harus dilakukan dengan hati-hati. Komunikasi hal semacam ini melakukan pengiriman pesan dari A ke B. Akibatnya perhatian utama mereka terpusat pada medium, saluran, pengirim, penerima, gangguan dan feedback (umpan balik), dimana semua istilah-istilah tersebut terkait dengan proses pengiriman pesan. Sekarang saatnya perhatian kita beralih kepada pendekatan yang berbeda secara radikal. Penekanan dari pendekatan ini tidak terlalu terfokus pada komunikasi sebagai sebuah proses, namun pada komunikasi sebagai penghasil makna.
            Ketika saya berkomunikasi dengan Anda, kurang lebih secara akurat Anda paham arti dari pesan saya. Agar komunikasi bisa terjadi saya harus membuat sebuah pesan yang terdiri dari berbagai tanda. Pesan ini kemudian menstimulasi Anda untuk menciptakan makna bagi diri Anda sendiri di mana makna tersebut sedikit banyak berkaitan dengan makna yang pada awalnya saya ciptakan. Semakin kita berbagi kode yang sama, maka semakin mungkin kita menggunakan sistem tanda yang sama, sehingga kedua makna yang kita miliki akan semakin mirip satu sama lain.
            Setiap orang yang menyadari akan komunikasi antara atasan dan bawahan sering terhubung dengan media. Misalnya dalam perusahaan, seorang bawahan menghubungi atasan melalui media yang sudah populer, whatsapp sering digunakan untuk berkomunikasi hubungan antara pekerja dengan direktur atau direktur dengan karyawan dan manajer. Ini mengindikasikan jika ada pesan yang disampaikan akan menciptakan respon terhadap penerima pesan.
            Hal ini wajar dalam media yang begitu mudah mempengaruhi orang atau masyarakat yang menggunakan, mendengar, melihat, ataupun membawa alat-alat media untuk digunakan komunikasi.
            Sehubungan dengan media yang semakin hari semakin mengkhawatirkan membuat masyarakat menjadi buta terhadap ancaman-ancaman kedepan. Dalam perkumpulan anak muda zaman sekarang sering melakukan nongkrong bareng tetapi yang menjadi fokus mereka adalah smartphone. Mereka sering asyik bermain dengan gadgetnya sendiri-sendiri tanpa menghiraukan sekitarnya. Bolehlah mereka membalas chat teman atau orang tua tetapi biasanya mereka sangat apatis terhadap hal-hal disekitarnya.
            Sebagai anak muda seharusnya mereka lebih berfikir kritis dalam menyikapi hal ini. Manfaatkan media sebaik mungkin, kontrol diri sendiri jangan sampai tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Jadikan media sebagai alat untuk menyebarkan informasi yang bermanfaat bukan menyebarkan hal-hal yang berbau provokasi atau SARA. Terutama mahasiswa, mereka memiliki ilmu yang luas tentang politik, ekonomi, dan teknologi.
            Jika mereka mau bekerja sama dengan dosen, guru ataupun dengan oraganisasi lain untuk melakukan inovasi baru agar media lebih dimanfaatkan oleh anak muda zaman sekarang. Maka, tidak mungkin generasi milenial kita terjebak dalam lumpur apatis yang tidak peduli dengan masalah apa yang terjadi di lingkungan sekitar.
            Minimal dalam suatu institusi membuat kursus belajar bahasa pemrograman atau acara seminar bijak menggunakan media sosial dan bisa juga mengajak melalui kegiatan hari-hari nasional menyadarkan para remaja agar selalu ikut andil dalam menggunakan media sosial.
            Pemerintah seharusnya lebih pro-aktif dalam hal ini. Memberikan solusi-solusi yang baik untuk para remaja dan mahasiswa. Bagaimana cara menggunakan media yang begitu menjamur yang kita lihat setiap satu orang memiliki akun lebih dari dua, ini harus dipahami oleh pihak pemerintah pusat maupun daerah.
            Dengan demikian, mulai dari penipuan, provokasi, isu SARA, berita hoax/bohong dapat diatasi dengan mudah oleh pihak kepolisian siber. Tanpa ada campur tangan dari pihak lain seperti meminta bantuan terhadap pihak luar negeri, ini harus dihentikan agar masalah ini tidak sampai menjadi rumit kedepannya. Dengan pemikiran cerdik para polisi siber untuk menumpas kasus-kasus ini bisa dapat diungkap ke publik dengan terbuka tanpa menutupi-nutupi. Para mahasiswa perlu melakukan andil dalam menumpas kejahatan siber semacam ini. Dengan pemikiran kreatif mereka bukan tidak mungkin bisa menjadi ancaman bagi para penjahat-penjahat siber.
DAFTAR PUSTAKA

·         Ambar. 2017. “20 Pengertian Media Sosial Menurut Para Ahli”.https://pakarkomunikasi.com/pengertian-media-sosial-menurut-para-ahli/Diakses pada Rabu, 11 oktober 2017 jam 19.11.
·         Baran, J. Stanley, 2011, Pengantar Komunikasi Massa : Literasi Media dan Budaya. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika
·         Ari Maulana. 2017. “Jokowi: Media Sosial di Indonesia Sangat Kejam”.http://regional.kompas.com/read/2017/10/17/19372161/jokowi-media-sosial-di-indonesia-sangat-kejam/Diakses pada Kamis, 19 oktober 2017 jam 13.23.
·         Arief, Rahardjo, Anung, dan Rahardjito. 2010. Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo Persada
·         Fiske, John (Hapsari Dwiningtyas). 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Rajagrafindo Persada












IMG_1863
Nama saya Muhammad al jawad, lahir di Pasuruan, Jawa timur, pada tanggal 19 oktober 1996. Sekarang saya tinggal di Kota Malang tepatnya di Desa Tlogomas, Kabupaten Malang.
Saya tengah menempuh jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Malang angkatan 2015. Sekarang masih menempuh semester 5. Hoby saya main rubik dan travelling. Saya memiliki cita-cita menjadi seorang pengusaha di bidang teknologi yang bisa menguasai pasar dunia.
Adapun pendidikan formal yang pernah saya tempuh yaitu lulusan tahun 2009 Sekolah Dasar Suwayuwo I kec. Sukorejo, kab. Pasuruan. Dan tahun 2012 lulus SMP al-ma’hadul Islami, Beji, Pasuruan. Kemudian pada tahun 2015 lulus SMA al-ma’hadul Islami Beji, Pasuruan. Dan sekarang saya aktif menjadi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
Kalian bisa mengunjungi blog saya di aljawadbos.blogspot.co.id dan follow instagram saya @4ljawad atau id line saya rubikismylife atau bisa juga menghubungi email saya aljawad90@yahoo.co.id
Terima Kasih.